Memilih Menjadi Bijaksana
Memilih Menjadi Bijaksana
“Apa warna mobil yang baru saja melintas di belakang kalian?” Pertanyaan Pak Budi membuat terkejut siswa siswi kelas VI yang saat itu sedang mengikuti upacara bendera. Tak satu pun diantara mereka mampu menjawab pertanyaan tersebut. Satu dengan yang lain saling bertatap muka terheran-heran. Mereka tidak menduga akan mendapat pertanyaan itu. Mereka merasa pertanyaan tersebut tidak tepat ditujukan kepada mereka, karena posisi jalan raya ada dibelakang mereka. Ya, mereka berdiri membelakangi jalan raya, sehingga tidak tahu apa saja yang melintas di jalan yang ada di belakangnya. Kalaupun tahu, itu hanya dugaan dari apa yang didengarnya. Tak satupun diantara mereka yang memberanikan diri menjawab pertanyaan dari Pak Budi, wali kelas mereka saat duduk di kelas 5 bangku sekolah dasar. Suasana menjadi hening setelah beberapa saat sebelumnya sebuah mobil merah dengan knalpot blombongan melintas di jalan raya dekat sekolah disertai suara yang memekakkan telinga.
Setelah beberapa saat menunggu dan tidak ada jawaban dari anak-anak kelas 6, Pak Budi memberikan pertanyaan yang sama kepada anak-anak kelas 1. Tanpa aba-aba mereka menjawab serentak, “Merah….!”. Hampir semua anak kelas 1 menjawab, kecuali satu anak yang yang tertunduk diam yang berdiri agak menjauh dari teman-temannya sambil memegangi tangan ibunya. “Bagus, kalian semua anak pintar, tepuk tangan semuanya!” para peserta upacara bertepuk tangan dengan riuh, demikian pula orangtua dari beberapa peserta didik kelas 1 yang ada diluar halaman sekolah ikut bertepuk tangan, menambah suasana semakin riuh.
Namun, sesuatu yang berbeda terlihat pada barisan anak-anak kelas 6, mereka hanya diam. Ketika pandangan pak Budi menuju ke arah mereka, barulah mereka satu demi satu mulai bertepuk tangan, meskipun dengan berat hati. Ya, karena mereka malu dengan anak-anak kelas 1, mereka kesal dan kecewa dengan Pak Budi, timbul dalam hati mereka suatu anggapan bahwa pak Budi kini tidak lagi menyayanginya, pak Budi telah berubah, sifat dan sikapnya tidak seperti dulu lagi.
Disisi lain anak-anak kelas 1 bangga karena bisa menjawab pertanyaan dari sang pembina upacara saat itu. Mereka merasa telah mampu unjuk gigi dihadapan kakak-kakaknya. Pengalaman tersebut membuat mereka semakin memiliki keberanian untuk melangkahkan kaki lebih jauh di sekolah yang baru, tidak perlu berkecil hati karena kemampuannya dapat diperhitungkan. Meskipun mereka baru saja menyelesaikan pendidikan di taman kanak-kanak dan kini masih berada di pintu gerbang bangku sekolah dasar, namun kehadirannya tidak bisa diremehkan.
Pak Budi kembali memuji anak-anak kelas 1 sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. “kalian memang anak pintar, pak guru yakin kalian akan bisa menjawab pertanyaan bapak ibu guru apabila kalian memerhatikan. Sekali lagi, dalam pelajaran apapun, selama kalian memerhatikan, pasti kalian bisa menjawab semua pertanyaan. Sebenarnya tidak ada pelajaran yang sukar, tidak ada pertanyaan yang sulit, tidak ada anak yang bodoh. Jika ada pertanyaan yang tidak bisa kalian jawab, itu hanya karena kalian tidak memerhatikan!” kata Pak Budi meyakinkan anak-anak kelas 1. Mereka adalah peserta didik baru yang belum genap sebulan duduk di bangku sekolah dasar. Masih banyak anak yang ditunggui oleh ibunya di luar kelas, beberapa anak merasa mandiri dan meminta orangtuanya pulang setelah mengantarnya ke sekolah, juga terlihat beberapa ibu-ibu sembunyi di warung sayur dekat sekolah untuk memantau anaknya. Namun, masih ada seorang bocah manja yang ingin ibunya ikut duduk di dalam kelas, yang kadang membuat guru kelas 1 merasa canggung dalam mengelola kelasnya.
“Anak-anakku semuanya, dari kelas 1 sampai dengan kelas 5, pada pagi ini kalian harus belajar dari pengalaman kakak-kakak kalian kelas 6, mereka adalah teladan kalian, tepuk tangan untuk mereka semua!” Pak Budi kembali mengajak para peserta upacara untuk bertepuk tangan. Tetapi, ajakan tepuk tangan dari pembina upacara ditanggapi dingin oleh anak-anak kelas 6. Mereka masih memendam rasa kesal terhadap Pak Budi, dihatinya masih tersimpan rasa kecewa, dalam benaknya masih terlintas pikiran, mengapa sosok guru kebanggaan mereka yang selama ini dijadikan teladan dan sangat disayanginya tiba-tiba berubah. Mereka beranggapan, “mungkin karena Pak Budi sekarang tidak menjadi wali kelasnya.”
“Kakak-kakak kalian kelas 6 telah memberikan teladan bagaimana menghargai orang yang sedang berbicara, mereka memerhatikan ketika pak guru berbicara, saat Pembina upacara menyampaikan amanatnya. Ya, tidak ada satupun diantara mereka yang bicara sendiri, tidak ada yang menengok ke kanan dan ke kiri atau ke belakang. Bahkan saat ada mobil blombongan yang mencari perhatian sedang melintas di jalan depan sekolah. Jika saja tadi ada anak kelas 6 menoleh ke belakang pasti dia yang pertama menjawab pertanyaan pak guru, ya… itu pasti!” tambah Pak Budi menyampaikan amanat upacara pagi itu.
Pandangan ke barisan anak-anak kelas 6 mulai berubah, satu per satu anak-anak mulai mengangkat kepalanya, tidak lagi tertunduk malu. “sekali lagi tepuk tangan untuk siswa-siswi kelas 6” Pak Budi kembali mengajak anak-anak bertepuk tangan. Suasana kali ini semakin gegap gempita, anak-anak kelas 6 tak henti-hentinya bertepuk tangan dengan lebih keras, rasa bangga ada di hatinya, pancaran bahagia nampak diraut wajah mereka, karena sebuah lencana keteladanan telah disematkan didada mereka. Malah terlihat beberapa siswi terharu meneteskan air mata, mungkin karena perasaan bangga dan bahagia tercampur menjadi satu setelah dinobatkan sebagai teladan, tetapi bisa jadi karena merasa bersalah telah memiliki prasangka berbeda atau salah penilaian terhadap kepribadian guru yang disayanginya.
Suara pak Budi tidak terdengar karena riuhnya tepuk tangan anak-anak. Suasana berhasil ditenangkan setelah pak Budi memberikan tanda isyarat diam dengan kedua tangannya. Pak Budi menambahkan “Anak-anak kelas 6 memilih untuk memerhatikan pak guru yang sedang berbicara, mereka anak yang bijaksana!”. “Andai saja tadi ada anak kelas 6 bisa menjawab pertanyaan pak guru, pak gurupun akan meyebut dia sebagai anak yang pintar, tetapi bukan anak yang bijaksana!” tuturnya. “Untuk itu, jika kalian suatu saat harus memilih diantara keduanya, jadilah anak yang bijaksana!” Pungkasnya dalam amanat upacara pagi itu sebelum Pak Budi menutupnya dengan salam.
Setelah upacara selesai anak-anak kelas 6 tidak langsung masuk ke dalam kelas, melainkan menyempatkan berjabat tangan sebentar dengan pak Budi. “Lho, tadi sebelum upacara kita sudah jabat tangan kan?” ucap Pak Budi. “Iya Pak, kami ingin berjabat tangan sekali lagi, sekalian mengucapkan terima kasih untuk amanat pagi ini.” jawab anak-anak polos. “Oh, iya. Boleh-boleh.., kalian memang anak yang bijaksana!” jawab pak Budi sembari tersenyum bahagia, pandangannya mengantarkan anak-anak kelas 6 yang berlari kecil menuju ke kelas mereka. “Terima kasih juga kalian telah mengajarkan pak guru untuk lebih bijaksana lagi, berterima kasih untuk segala sesuatu yang kita terima!” gumam pak Budi dalam hati.
Motivator
BalasHapusTerima kasih Bu, jenengan yang menjadi motivator Bu, :)
HapusSipz,,lanjut pk....👍
BalasHapusTerima kasih Bu. Lanjut gak ya,,
HapusIni lagi lanjut Bu, lanjutkoreksi jawaban anak-anak, heheee...
tulisannya mengandung bawang pak
BalasHapusbikin nangis huhu
Keren sekali pak Sur
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca Bu, mengandung bawang ungu yang biasa bikin nangis Bu? :D
HapusMantul Bun👍👍👍
BalasHapus